
Oleh : Muslimah
Kelas XII Agribisnis TPHP
SMK Daarul Khair Pulosari
ﺣَﺪَّﺛَﻨَﺎ ﺍﻟْﻘَﻌْﻨَﺒِﻲُّ ﻋَﻦْ
ﻣَﺎﻟِﻚٍ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ ﺍﻟﺰِّﻧَﺎﺩِ ﻋَﻦْ ﺍﻟْﺄَﻋْﺮَﺝِ ﻋَﻦْ ﺃَﺑِﻲ
ﻫُﺮَﻳْﺮَﺓَ ﻗَﺎﻝَ ﻗَﺎﻝَ ﺭَﺳُﻮﻝُ
ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﻋَﻠَﻴْﻪِ ﻭَﺳَﻠَّﻢَ ﻛُﻞُّ ﻣَﻮْﻟُﻮﺩٍ
ﻳُﻮﻟَﺪُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟْﻔِﻄْﺮَﺓِ ﻓَﺄَﺑَﻮَﺍﻩُ
ﻳُﻬَﻮِّﺩَﺍﻧِﻪِ ﻭَﻳُﻨَﺼِّﺮَﺍﻧِﻪِ ﻛَﻤَﺎ ﺗَﻨَﺎﺗَﺞُ ﺍﻟْﺈِﺑِﻞُ
ﻣِﻦْ ﺑَﻬِﻴﻤَﺔٍ ﺟَﻤْﻌَﺎﺀَ ﻫَﻞْ
ﺗُﺤِﺲُّ ﻣِﻦْ ﺟَﺪْﻋَﺎﺀَ ﻗَﺎﻟُﻮﺍ ﻳَﺎ ﺭَﺳُﻮﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪِ
ﺃَﻓَﺮَﺃَﻳْﺖَ ﻣَﻦْ ﻳَﻤُﻮﺕُ ﻭَﻫُﻮَ
ﺻَﻐِﻴﺮٌ ﻗَﺎﻝَ ﺍﻟﻠَّﻪُ ﺃَﻋْﻠَﻢُ ﺑِﻤَﺎ ﻛَﺎﻧُﻮﺍ
ﻋَﺎﻣِﻠِﻴﻦَ (ﺭﻭﺍﻩ ﺃﺑﻮ ﺩﺍﻭﺩ)
[1 ]
Artinya :
Menceritakan kepada kami
Al-Qa’nabi dari Malik dari Abi Zinad dari Al–A’raj dari
Abu Hurairah berkata Rasulullah
saw bersabda : “Setiap bayi itu dilahirkan atas fitroh maka kedua
orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasroni sebagaimana unta yang melahirkan dari unta yang sempurna, apakah kamu melihat dari yang cacat?”. ParaSahabat bertanya: “Wahai Rasulullah
bagaimana pendapat tuan mengenai orang yang mati masih kecil?” Nabi menjawab: “Allah lah yang lebih tahu tentang apa yang ia kerjakan”. (H.R. Abu Dawud)
KANDUNGAN HADITS
Setiap anak dilahirkan atas
fitrohnya yaitu suci tanpa dosa, dan apabila anak
tersebut menjadi yahudi atau nasrani, dapat dipastikan itu adalah dari orang tuanya. Orang tua harus mengenalkananaknya tentang sesuatu
hal yang baik yang harus dikerjakan dan mana yang buruk yang
harus ditinggalkan. Sehingga anak itu bisa tumbuh berkembang dalam pedndidikan yang baik dan benar.
Dalam proses pendidikkan anak
ini, adakalanya orang tua bersikap keras dalam mendidik anak. Contohnya, pada umur tujuh tahun orang tua mengingatkan anaknya untuk melakukan sholat dan pada saat umur sepuluh tahun, orang tua boleh memukulnya ketika sianak tersebut tidak mengerjakan sholat. Ketika anak tersebut oleh orang
tuanya dijadikan seorang muslim maka anak tersebut
harus menjalankan
kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim. Salah satunya adalah
berbakti kepada kedua orang tuanya seperti firman Allah SWT.
“dan Kami wajibkan manusia
(berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu- bapaknya”. (Q.S Al- ankabuut). Alangkah tepat andai firman Allah tersebut kita baca berulang-ulang dan kita renungkan dalam- dalam. Sehingga Allah berkenan mengaruniakan cahaya hidayahnya kepada kita, mengaruniakan kesanggupan untuk mengoreksi diri dan mengaruniakan
kesadaran untuk bertanya: “Telah seberapa besarkah
kita memuliakan ibu bapak?”. Boleh jadi kita sekarang mulai
mengabaikan orang tua kita. Bisa saja saat ini mereka tengah memeras keringat banting tulang mencari uang agar studi kita sukses. Sementara kita sendiri mulai malas belajar dan tidak pernah menyesal ketika mendapatkan
nilai yang pas-pasan. Bahkan, dalam shalat lima
waktunya atau tahajudnya mereka tak pernah lupa
menyisipkan doa bagi kebaikan kita anak-anaknya.
Tetapi, berapa kalikah dalam
sehari semalam kita mendoakannya? Shalat saja kita sering telat dan
tidak khusyuk Rasulullah SAW
menempatkan ibu “tiga tingkat” di atas bapak dalam hal bakti kita pada keduanya. Betapa tidak, sekiranya saja kita menghitung penderitaan dan pengorbanan mereka untuk kita, sungguh tidak akan terhitung dan tertanggungkan. Orang bijak mengatakan, “Walau kulit kita dikupas hingga telepas dari tubuh tidakakan pernah bisa
menandingi pengorbanan mereka kepada kita.” Jadi orang tua itu berperan penuh dalam proses mendidik anaknya, apabila anak itu sampai tidak mengenal agama (mengenal Allah) maka itu merupakan
kelalaian orang tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar