KELUARGA TAK BOLEH DIBERI
WAKTU "SISA"
AA Gym
Di tengah kesibukannya, waktu bagi keluarga tetap harus spesial. Sore itu hujan membasahi bumi Gegerkalong Girang, Bandung. Di Mesjid Daarut Tauhiid, ratusan jamaah khusyuk mendengarkan ceramah K.H. Abdullah Gymnastiar (40 Th) atau Aa Gym dalam rangka wisuda santri mukim. Padahal, sebelumnya Aa juga berceramah di beberapa tempat. Tiba di rumah, sejumlah tamu telah menunggu untuk bersilaturahmi. Lalu selepas salat Isya, Aa juga harus berceramah untuk santri umum.
Lantas kapan waktu Aa untuk Ummu Ghaida Muthmainnah(35),
sang istri, serta keenam anaknya? "Pasti ada. Soalnya, waktu yang
berkualitas harus tetap disediakan orang tua untuk anak," papar Pimpinan Pondok Pesantren
Daarut Tauhiid.
Karena itu pula, seminggu
sekali, Aa rutin mengajak 12 anaknya (6 anak kandung dan selebihnya anak yatim,
Red) pergi bersama. "Tiap Minggu sore kami pergi bareng. Ke mana saja. Kadang makan rame-rame. Ya, di
restoran, di pinggir jalan, di mana saja oke, kok." Saat itu pula dipakainya untuk menasihati
anak-anaknya. "Termasuk bicara soal kekurangan mereka selama seminggu itu. Tapi tak boleh ada yang
marah. Mereka harus belajar menerima kritik."
RAHASIA MENDIDIK ANAK
Lalu ayah dari Ghaida Tsurayya (13), M. Ghazi Al Ghifari
(11), Ghina Roudhotul Jannah (9), Ghaitsa Zahira Shofa (8), Ghefira Nur Fatimah
(5) dan M. Ghaza Al Ghozali (3) ini berujar, anak adalah amanah. Jadi, sebagai orang tua, saya bertanggung
jawab penuh mengantar mereka agar bisa
mengarungi hidup secara benar, di jalan yang benar, dan dengan niat yang benar
pula."
Orang tua, kata Aa, harus sungguh-sungguh meluaskan
wawasan pengetahuannya tentang kebenaran. Jangan
sampai kasih sayang untuk mendidik anak, diekspresikan dengan cara yang menurut
Allah tidak tepat.
Rupanya Aa Gym punya rahasia untuk mendidik anak. Yaitu,
dengan cara mendidik diri sendiri.
"Anak, kan, tak cuma merekam dengan telinga, tapi juga dengan mata,
dan melihat yang kita lakukan
sehari-hari. Sehebat apa pun nasihat yang diberikan, kalau tidak tercermin dari
perilaku kita sehari-hari, hanya akan
mementahkan nasihat itu sendiri."
Ia juga menekankan, sebaik-baiknya nasihat adalah suri
tauladan dan sebaik-baiknya sentuhan adalah dari hati. Karena itulah ia
berusaha memberi banyak contoh pada anak-anaknya. "Jadi, cara mendidik anak adalah dengan cara
terus-menerus mendidik serta memperbaiki diri sendiri."
RELA BAYAR PULSA MAHAL
Aa juga berujar, selama ini
banyak orang tua yang mendidik anak dengan sisa waktu, sisa tenaga, dan sisa pikiran. "Padahal, apa
yang bisa dicapai dengan hanya 'sisa'. Mendidik anak sama pentingnya seperti
makan, minum, atau bekerja. Yakni, harus dengan waktu, pikiran, dan tenaga
spesial. Tugas orang tualah mengatur waktunya sebaik mungkin." Kendati
termasuk orang sibuk, Aa selalu
menyempatkan diri berkumpul dengan keluarganya. "Meski cuma 10-20
menit."
Untuk anak-anaknya yang masih
balita, Aa menyediakan waktu khusus untuk bermain, membelai, atau mendengarkan
celoteh mereka.
Khusus untuk Ghaza dan Ghefira yang masih balita,
"Selalu saya sempatkan berdoa di telinganya. Jadi ada visi di telinganya.
Misalnya, 'Ya, Allah, jadikan Ghaza anak yang saleh,
anak yang rajin belajar, anak yang sayang kepada ibu dan bapaknya. Anak yang selalu rajin bekerja dan belajar. “Nanti dia yang mengucap amin, amin, amin." Kepada anak-anak yang lebih besar, Aa tidak hanya mendoakan mereka secara khusus, tetapi juga banyak meminta nasihat, apa yang mesti diperbaiki oleh bapak dan ibunya.
anak yang rajin belajar, anak yang sayang kepada ibu dan bapaknya. Anak yang selalu rajin bekerja dan belajar. “Nanti dia yang mengucap amin, amin, amin." Kepada anak-anak yang lebih besar, Aa tidak hanya mendoakan mereka secara khusus, tetapi juga banyak meminta nasihat, apa yang mesti diperbaiki oleh bapak dan ibunya.
MENANGIS USAI MENGHUKUM
Hukuman pada anak, kata Aa,
tetap bisa diberikan. "Tapi bukan dengan cara emosional, melainkan dari
hati ke hati. Anak pun akan mengerti, perkataan orang tua adalah demi kebaikan
mereka." Ia lalu memberi contoh, terpaksa harus memukul anaknya yang lalai
salat.
Pukulan itu sendiri, merupakan
kesepakatan bersama antara dia dan anak-anak yang sudah besar. Jika ada salah
satu anaknya mengaku tak salat, ia pun akan berujar, "Aduh, bagaimana ini?
Bapak, kan, harus menjalankan hukuman." Si anak pun mengajak Aa masuk
kamar, siap menerima hukuman. "Sambil memeluk si anak, saya minta maaf
karena terpaksa memukulnya.
Dengan kata lain, hukuman tetap
dijalankan meski saya dan anak akhirnya sama-sama menangis. Saya bilang
padanya,'Tuh, kan. Kalau begini, Bapak jadi sedih, harus memukul anak sendiri. Bapak sayang sekali, tapi kalau
tidak dilakukan, kita dosa karena ini sudah perjanjian kita."
BERAKHLAK MULIA
Tanggung jawab dan disiplin juga selalu ia terapkan
sejak dini pada anak-anaknya. Tidak pandang anak besar maupun kecil, semua ikut
terlibat. Misalnya, piket menyiapkan tikar dan perlengkapan salat. Jadwal Ghaza
setiap Senin dan Ghefira Selasa. Memang,
Ghaza masih dibantu kakak-kakaknya. "Dia senang sekali pada tugasnya itu
dan selalu ingat jadwalnya. Sebetulnya, kalau dari kecil anak sudah dibimbing
mengenal Allah, mengenal kemuliaan akhlak, misalnya bisa menolong orang, akan
sangat bagus."
Khusus untuk masalah disiplin dan ketertiban, Aa
mencontoh orang tuanya. Itu pula yang diterapkan pada anak-anaknya kendati juga
memberi mereka kepercayaan penuh untuk menentukan sendiri langkah yang terbaik.
"Saya sangat demokratis.
Contohnya, kala anaknya minta mainan berharga ratusan
ribu rupiah, "Saya ajak dia berpikir, dengan uang sebanyak itu, ada orang
yang bisa makan sekeluarga selama sebulan atau bisa buat bayar sekolah.
Bahkan, untuk dapat seratus
ribu, orang harus bekerja siang-malam. lalu saya tanya, mana yang lebih baik,
punya robot atau uang itu dimanfaatkan dengan lebih baik? Biasanya mereka
akhirnya tak jadi membeli."
Aa mengaku, tak pernah mengarahkan anaknya harus menjadi
ini-itu. "Buat saya, yang penting, anak-anak punya tingkat kedewasaan yang
tinggi agar mereka bisa bersikap dewasa dan berakhlak baik. Buat apa jadi
begini-begitu kalau akhlaknya tak mulia?"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar