ALAM
SEBAGAI AYAT
Suatu
malam Rasulullah SAW meminta izin kepada istrinya, Aisyah, untuk shalat malam.
Dalam shalatnya, beliau menangis. Air matanya mengalir deras. Beliau terus
beribadah hingga sahabat Bilal mengumandangkan azan Subuh. Beliau masih menangis
saat Bilal datang menemuinya. ''Mengapa Tuan menangis?'' tanya Bilal.
''Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosa Tuan baik yang lalu maupun yang
akan datang?''
Nabi
menjawab, ''Bagaimana aku tidak menangis, telah diturunkan kepadaku malam tadi
ayat ini, 'Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya
malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang
mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka
memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka'.'' (Ali 'Imran: 190-191).
Alam
semesta, menunjuk kepada dua ayat di atas, adalah ayat, yaitu tanda atau
rambu bagi sujud dan kuasa Allah. Sebagai ayat, alam semesta ini harus dibaca
dan dipelajari hingga menimbulkan iman dan kekaguman (khasy-yah) yang
makin besar kepada al-Khaliq. Nabi pernah memberikan arahan agar manusia
tidak memikirkan Zat Allah, tetapi cukup merenungkan alam ciptaan-Nya. Kata
beliau, ''Pikirkanlah ciptaan Allah, dan jangan memikirkan Zat Allah.''
Jadi,
ayat-ayat Allah itu ada dua macam. Pertama, ayat-ayat berupa Kitab Suci (qauliyah).
Kedua, ayat-ayat berupa alam semesta sebagai ciptaan Allah (kauniyah).
Menurut filsuf Muslim, Ibn Rusyd, alam semesta justru merupakan ayat-ayat Allah
yang pertama. Dikatakan demikian, karena sebelum Allah SWT menurunkan Kitab
Taurat, Injil, dan Alquran, Allah telah menciptakan alam jagat raya ini. Karena
alam adalah ayat, maka sebagaimana sepotong firman adalah ayat, maka sejengkal
alam juga ayat.
Sebagai
ayat, alam ini selalu bergerak memenuhi tujuan penciptaan. Karena itu,
penelitian terhadap alam diduga kuat dapat mengantar manusia menemukan dan
meyakini wujud Allah dan kuasa-Nya. Sebagai ayat, alam ini juga mengandung
hukum-hukum Allah yang dalam terminologi Alquran dinamakan takdir dan
sunatullah.
Takdir
merupakan hukum-hukum Allah yang diberlakukan pada alam fisik (makrokosmos),
sedangkan sunatullah merupakan hukum-hukum Allah untuk alam sosial
(mikrokosmos). Sebagai hukum-hukum Allah, keduanya, takdir maupun sunatullah,
mengandung kepastian dan determinasi. Manusia, karenanya, tidak mungkin dan
tidak dapat melawannya.
Manusia,
tidak bisa tidak, harus meneliti dan mempelajari alam dan fenomena alam agar
mengenali hukum-hukum Allah yang terkandung di dalamnya. Pengenalan terhadap
hukum-hukum Allah itu, dengan sendirinya, akan mendatangkan kemudahan dan
kemaslahatan bagi kehidupan manusia di muka bumi. Alam semesta dengan begitu
benar-benar menjadi rahmat dan nikmat, bukan menjadi laknat dan petaka bagi
umat manusia. Wallahu a'lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar